#1 - Dekap Malam Dalam Nafas


Aku menempati semesta yang turun ke bumi untuk mencari permaisuri
kata siapa?
salah, aku orang yang tak pandai apa-apa
aku bukan siapa-siapa dan hanya sebatas tanya
bukankah itu sebuah ungkapan duka saat aku redup bersama malam

Jangan mendekap malam bersama duka jika tak ingin merasa luka

Jangan memapah jika hanya sapa
jangan merasa jika hanya satu-satunya
lebih suka berdiri sendiri dan kembali memeluk puisi

Setiap langkah butuh dipapah
jika memang tinggal?
untuk apa menyapa?

Puan, tak ada yang lebih mudah dibandingkan malam kita dan bersama

Tuan, malam tetaplah malam 
akan tergantikan oleh mentari pagi 
bersama?
apakah bisa?


Puan tetaplah Tuan,
tatap mataku jika terganti cahaya

Tuan, pada matatersirat akan makna
ketika cahaya kembali, masihkah sama?

Kau tahu puan?
ada malam yang sedang aku lihat
Di antara ribuan bintang aku memelukmu
bayang semu

Apakah puan ada di antara tatapan itu Tuan?
samakah puan?
pelukmu hanyalah semu

Di swastamita tepat pada hembus anila
dan aku hanya ruh yang meminta untuk dihidupkan

Kita hanya sebatas dinding pemisah jiwa
tak semua ru bisa menyapa nafas

Tepat di muara tersudut samudera pemisah jiwa
jika nafas adalah jawaban
maka biarkan aku sekali lagi

Selamat jalan 
aku pergi
dan kembali memeluk tubuh Tuhan 

Nafas adalah jawabannya
ku biarkan kau lewati samudera itu, sanggupkah?
terima kasih untuk penggalan nafasnya

Kenali aku dari kalimat-kalimatku
bukan syair-syair masa lalu

Kan ku kenali dirirmu
lewati kalimatmu yang menyiratkan bahwa nafas tak hanya sebatas nafas

Karawang Manado, 19 Agustus 2020
Nara Alfarizi & Vhey Kicko

Komentar

Postingan Populer