#3 – Cinta Sejati (Eps. 1)


 

Malam ini,

Aku bersama tulisan yang bertugas sebagai pecahan dimana kita dipisahkan

Dalam tempuh kegelapan, tak ada kegembiraan

Aku terseduh dalam hangatnya luka memeluk kepergianmu,

Menciumku sebelum nafas itu benar-benar pergi

 

Di jiwaku kini,

Tak ada yang tersisa bahkan untuk aku simpan,

Kepergianmu yang terlukis pada nisan

 

Akan tiada akhirnya

Menangis bersama genangan darah yang menghangatkan di sekujur tubuh

Yang menjadi tulang berserakan atas kelapangan jantung

Di bawah bintang-bintang yang entah kemana perginya kamu

Yang pernah aku miliki,

Perapian di malam hari

 

Kau tahu?

Aku kebingungan

Mencari rasa ikhlas yang benar-benar membuatku merasa tidak benar

Saat aku perlahan memanjakan perasaan

Menutup mata atas kantuk yang terjatuh bersama rinai hujan,

Derai yang melerai

Pemisahan antara jiwa raga

Dan ingin aku katakan

Hal yang tidak pernah aku utarakan

“ Di kata itu “

Hanya ketika aku melihatmu

Yang tak bisa aku ungkapkan sendirian

Menyadari jika raga tak saling berhadapan

Memeluk nisan yang saling bertatapan

 

Mesra,

Aku memeluk tanah yang menguburmu

Yang menyelimuti tubuhmu menyelinap di pangkuan rahimku yang tak sempurna

Meminta anak tergerus tandus tanah

 

Terang memanggilku, kembali lagi

Menyiasati ingin menutupi

Denganmu aku terpisah jarak

“Dunia kita berbeda”

 

Meredup paksa jiwa hingga pasrah dalam wujud yang sangat lelah,

Tak mungkin kembali

Tercukup hadir pada takdir kita yang takkan terganti

 

Karawang Manado, 30 Agustus 2020

Nara Alfarizi dan Vhey Kicko

Komentar

Postingan Populer